Rabu, 03 Juni 2026

 


TPP Kota Sabang Siap Terapkan Aplikasi DRP Terbaru

SABANG –Rabu (3/6/2026), Tenaga Pendamping Profesional (TPP) Kota Sabang melakukan konsolidasi sekaligus sosialisasi dan praktik langsung penggunaan aplikasi mobile Daily Report Pendamping versi 3 (DRP V3). Kegiatan yang berlangsung dinamis ini dihadiri oleh seluruh elemen TPP di wilayah Kota Sabang, mulai dari Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) Kota, Pendamping Desa (PD), hingga Pendamping Lokal Desa (PLD).

​Transformasi Digital untuk Akuntabilitas

​Bukan sekadar pertemuan rutin, agenda ini merupakan respons cepat terhadap Surat Edaran yang ditandatangani oleh Plh. Kepala Pusat Pengembangan Pemberdayaan Masyarakat dan Daerah Tertinggal. Surat tersebut menginstruksikan penggunaan aplikasi mobile DRP V3 sebagai platform resmi laporan individu TPP. Aplikasi DRP V3 ini merupakan versi terbaru yang memegang peranan sangat krusial, di mana dengan sistem berbasis harian (daily report), setiap kinerja TPP di lapangan akan tercatat secara real-time dan transparan.

​Secara legalitas, pembaruan aplikasi ini merupakan pengejawantahan langsung dari regulasi payung hukum terbaru, yaitu Keputusan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Nomor 294 Tahun 2025 tentang Petunjuk Teknis Pendampingan Masyarakat Desa. Dengan adanya dasar hukum yang kuat ini, migrasi ke sistem DRP V3 menjadi sebuah kewajiban konstitusional bagi setiap pendamping guna memastikan seluruh kegiatan pemberdayaan di gampong-gampong (desa) terdokumentasi dengan baik.

​Mengapa DRP V3 Sangat Krusial? (Fungsi dan Manfaat)

​Aplikasi DRP V3 membawa lompatan teknologi yang signifikan dibanding versi-versi pendahulunya. Platform mobile ini dirancang untuk menjadi instrumen utama dalam menjaga marwah profesionalisme TPP melalui dua pilar utama:

​Peningkatan Kualitas Laporan Individu: Sistem ini meminimalisir kekeliruan pelaporan data. Setiap TPP diwajibkan menginput aktivitas harian mereka secara sistematis, sehingga rekam jejak digital mengenai dinamika pembangunan desa dapat terpantau dengan lebih objektif.

​Aspek Akuntabilitas Keuangan: DRP V3 memegang peranan vital sebagai basis data utama untuk mendukung akuntabilitas pembayaran honorarium serta bantuan operasional. Dengan kata lain, hak penyaluran dana operasional dan honor bagi pendamping kini terkunci rapat pada performa laporan harian berbasis digital yang mereka unggah. No report, no payment—sebuah sistem yang mendorong kedisiplinan tinggi.

​Potret Riil Lapangan dan Pemanfaatan Teknologi Digital

​Salah satu keunggulan utama dari DRP V3 yang diuraikan dalam rapat koordinasi tersebut adalah kemampuannya untuk menangkap kondisi riil (real-time dan real-situation) di lapangan. Melalui fitur berbasis mobile, para pendamping tidak lagi sekadar menyetor laporan di atas kertas yang rawan usang atau terlambat.

Saat berada di lapangan—baik saat mengawal musyawarah gampong, memantau pembangunan infrastruktur, maupun saat melakukan pemutakhiran data SDGs Desa—TPP Kota Sabang dapat langsung mengunggah progresnya saat itu juga. Pemanfaatan teknologi digital ini secara otomatis memotong jalur birokrasi pelaporan manual yang panjang dan lambat, sekaligus menyajikan potret desa yang jujur, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik maupun kementerian terkait.

​Metode Praktik Langsung: Memastikan Bebas Gagap Teknologi
Menyadari bahwa sebuah sistem digital hanya akan sekuat pemakainya, TAPM Kota Sabang tidak hanya memberikan pemaparan materi satu arah atau teori belaka. Sesi yang paling menyita perhatian adalah saat diadakannya uji coba dan praktik langsung (simulasi).

​Di bawah bimbingan TAPM Kota, para peserta yang hadir langsung membuka gawai (smartphone) mereka masing-masing, mengunduh aplikasi, mempelajari antarmuka (interface) baru, dan menyimulasikan cara pengisian laporan harian. Melalui metode taktis ini, kendala teknis atau kendala pemahaman fitur dapat langsung dimitigasi di tempat.

​Melalui konsolidasi dan penguasaan aplikasi DRP V3 ini, TPP Kota Sabang membuktikan diri siap bertransformasi menjadi barisan pendamping yang lebih modern, dan siap mengawal pemanfaatan dana desa di Kota Sabang dengan lebih baik.


Oleh: Tim Media Warta TPP Sabang
Copyright © 2026 - Pemberdayaan Masyarakat Desa Kota Sabang

Minggu, 24 Mei 2026


 Tingkatkan Layanan Kesehatan Berbasis Siklus Hidup, Kader ILP Gampong Cot Ba’u Ikut Pelatihan Peningkatan Kapasitas

​SABANG – Pemerintah Gampong Cot Ba’u berkomitmen penuh dalam mentransformasi pelayanan kesehatan masyarakat di tingkat akar rumput. Melalui Lembaga Kader Integrasi Layanan Primer (ILP), jajaran perangkat desa menggelar kegiatan sosialisasi dan peningkatan kapasitas bagi para kader kesehatan di Aula Kantor Keuchik Gampong Cot Ba’u, Rabu (20/05/2026).

​Kegiatan strategis ini dibuka langsung oleh Keuchik Gampong Cot Ba’u, Bapak Safwan, S.I.P. Dalam arahannya, beliau menekankan pentingnya peran kader sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan gampong.

​Untuk memastikan materi yang disampaikan komprehensif, panitia menghadirkan para ahli dari Puskesmas Cot Ba'u, yaitu Ibu Efri Sangkot Butar-Butar, S.Tr. Keb. dan Ibu Khusnul Khatimah, A.Md. Gz.
​Fokus pada Administrasi dan 25 Kompetensi Dasar
​Pelatihan kali ini tidak hanya sekadar penyampaian teori, melainkan difokuskan pada dua pilar utama:
​Tata Kelola Administrasi Posyandu: Penguatan pencatatan dan pelaporan yang akuntabel dan terintegrasi.Penguasaan 25 Kompetensi Dasar: Pembekalan keterampilan teknis mendalam yang mencakup aspek skrining kesehatan terpadu.
​Melalui pendekatan ILP, hasil akhir yang ditargetkan adalah lahirnya kader-kader yang andal dan mampu mengintegrasikan sistem klaster. Pelayanan kesehatan tidak lagi berjalan parsial, melainkan menyeluruh berdasarkan siklus hidup manusia—mulai dari pemantauan kesehatan Ibu Hamil, Balita, Remaja, Dewasa, hingga pelayanan ramah Lansia.                                                                                     
Sinergi 4 Posyandu Gampong Cot Ba'u                                                               
Semangat perubahan ini diikuti secara antusias oleh perwakilan kader ILP dari 4 Posyandu aktif yang tersebar di wilayah Gampong Cot Ba’u, meliputi:                                        
Posyandu Seulanga (mewakili wilayah Jurong Mulia dan Cot Mancang)             ​
Posyandu Jeumpa (wilayah Jurong Tanoh Buju)                                              
Posyandu Kasih Ibu (wilayah Jurong Bakaran Batu)                                      
Posyandu Harapan Bunda (wilayah Jurong BayPass

​Dengan adanya bekal ilmu baru ini, diharapkan pemahaman para kader semakin tajam dalam menjalankan pelayanan kesehatan terpadu, sekaligus mampu memperluas daya jangkau layanan kesehatan di tiap-tiap jurong.Peran Nyata Tenaga Pendamping Profesional (TPP) dalam Penguatan Layanan Dasar Gampong.                                                                    Keberhasilan pelaksanaan sosialisasi peningkatan kapasitas kader ILP di Gampong Cot Ba’u ini tidak lepas dari peran aktif Tenaga Pendamping Profesional (TPP) Kemendesa PDT, khususnya Pendamping Desa (PD) Kecamatan Sukajaya.

​Kesehatan dasar, penanganan stunting, dan penguatan kelembagaan lokal merupakan amanat undang-undang yang senantiasa dikawal oleh TPP di lapangan. Dalam konteks implementasi ILP di Gampong Cot Ba'u, peran strategis pendampingan mewujud dalam beberapa aspek krusial:                                                                                                                          Fasilitasi Perencanaan Budgeting (Dana Desa): Pendamping Desa memastikan bahwa program prioritas nasional—seperti peningkatan kapasitas kader kesehatan dan pemenuhan sarana posyandu—mendapat porsi penganggaran yang sah dan tepat sasaran di dalam APBG (Anggaran Pendapatan dan Belanja Gampong).

​Penguatan Kelembagaan Kader: TPP bertindak sebagai mitra diskusi pemerintah gampong dalam menyusun skema kelembagaan Lembaga Kemasyarakatan Desa (LKD), termasuk posyandu, agar sejalan dengan regulasi terbaru kementerian.                                                  Konvergensi Layanan dan Monitoring Aplikasi: Melalui pemantauan intensif (seperti pengisian data pada aplikasi digital eHDW), TPP membantu gampong memetakan status kesehatan warga, sehingga intervensi dari kader ILP pasca-pelatihan ini dapat bergerak lebih presisi dan berbasis data nyata.

​Hadirnya Pendamping Desa memastikan gampong tidak berjalan sendiri. Sinergi antara kebijakan Keuchik, teknis medis dari Puskesmas, serta fasilitasi berkelanjutan dari TPP adalah kunci utama bagi perluasan akses kesehatan yang berkeadilan di Kota Sabang.

​Disadur oleh: Boy Haqi Pendamping Desa (PD) Sukajaya

Editor: Tim Warta TPP Kota Sabang

Rabu, 20 Mei 2026


Jaga Ketahanan Ekonomi Warga, Pemerintah Gampong Beurawang Salurkan BLT-DD April-Mei 2026

​SABANG, WARTA TPP – Komitmen nyata dalam mendukung masyarakat kurang mampu secara ekonomi terus digulirkan oleh Pemerintah Gampong Beurawang, Kecamatan Sukamakmue, Kota Sabang. Melalui program Bantuan Langsung Tunai yang bersumber dari Dana Desa (BLT-DD), pemerintah setempat mengambil langkah konkret untuk menjaga ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan ekonomi warga.  

​Pada hari Kamis (19/5), suasana di Kantor Keuchik Gampong Beurawang tampak dipadati warga sejak pagi. Pemerintah gampong menyalurkan BLT-DD untuk alokasi sekaligus dua bulan, yaitu bulan April dan Mei tahun 2026. Proses penyaluran yang berlangsung dengan tertib dan transparan ini dimulai tepat pukul 09.00 WIB hingga selesai pada pukul 12.00 WIB.  

​Sasaran Tepat Guna untuk 12 KPM      

Berdasarkan hasil keputusan Musyawarah Desa yang merujuk pada kriteria peraturan perundangundangan, tercatat sebanyak 12 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di Gampong Beurawang yangberhak menerima bantuan ini.                                                                                                          Mekanisme Penyaluran: Setiap KPM menerima bantuan tunai sebesar Rp 150.000,- setiap bulannya yang dialokasikan selama satu tahun. Karena penyaluran kali ini mencakup bulan April dan Mei, maka masing-masing KPM membawa pulang uang tunai sebesar Rp 300.000,-.                                                                                                                                                                                                                   ​Keuchik Gampong Beurawang, Misdar, dalam kesempatan tersebut menyampaikan pesan humanis kepada warganya agar mempergunakan dana tersebut secara bijak.                                                    "Kami sangat berharap kepada seluruh penerima BLT-DD agar memanfaatkannya dengan sebaik baiknya untuk memenuhi kebutuhan pokok rumah tangga yang mendesak,"
 ujar Misdar di sela-sela kegiatan.  

Pengawalan Ketat Transparansi Dana Desa

​Program BLT-DD ini merupakan instrumen penting pemerintah dalam mendongkrak kesejahteraan warga desa yang benar-benar membutuhkan dukungan ekonomi. Proses penandatanganan dokumen dan penyerahan dana secara langsung ini turut dikawal oleh aparat keamanan (Bhabinkamtibmas) , perangkat desa serta Pendamping Desa Kecamatan Sukamakmue Kota Sabang Bapak Abdul Karim guna memastikan bantuan jatuh ke tangan yang tepat.                                                                            Dengan adanya stimulus ekonomi ini, diharapkan ketahanan pangan tingkat gampong dapat terjaga dan beban ekonomi masyarakat kurang mampu dapat diringankan.  

​Disadur Oleh: Abdul Karim (Pendamping Desa (PD) Kecamatan Sukamakmue, Kota Sabang)

Editor; Tim Warta TPP Sabang

Senin, 11 Mei 2026

Gampong Cot Bau Tetapkan Arah Kebijakan Anggaran 2026 Sebesar Rp5,1 Miliar

 ​COT BAU – Pemerintah Gampong Cot Bau secara resmi telah melaksanakan musyawarah perencanaan pembangunan pada selasa 10 Maret untuk Tahun Anggaran 2026. Pertemuan strategis ini menjadi landasan krusial dalam menentukan arah pembangunan desa yang inklusif, transparan, dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.  

​Sinergi Pemangku Kepentingan

​Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai elemen penting desa, menunjukkan kuatnya partisipasi publik dalam pengambilan keputusan. Hadir dalam musyawarah tersebut:

​Keuchik dan Sekretaris Desa.  

​Kaur Perencanaan dan jajaran pemerintah gampong.  

​Tuha Peut beserta anggota sebagai badan pengawas dan keterwakilan masyarakat.  

​Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, serta Ulee Jurong.  

Bapak Zulfan Pendamping Lokal Desa PLD, ​Kader Posyandu, Pengurus BUMG, dan Pendamping Desa (PD).  

Partisipasi peserta mencakup 37 orang, yang terdiri dari 23 laki-laki dan 14 perempuan, mencerminkan upaya keterlibatan gender dalam perencanaan pembangunan gampong.  

​Postur Anggaran: Fokus pada Kesehatan dan Kemandirian Ekonomi

​Total Anggaran Pendapatan dan Belanja Gampong (APBG) Cot Bau untuk tahun 2026 diproyeksikan mencapai Rp5.175.696.295. Dari total anggaran tersebut, terdapat dua sektor prioritas yang menjadi sorotan utama:  

​Penanganan Stunting dan Kesehatan: Alokasi sebesar Rp166.290.000 disiapkan khusus untuk bidang kesehatan. Hal ini menegaskan komitmen Gampong Cot Bau dalam mendukung program nasional percepatan penurunan stunting demi menjamin generasi masa depan yang lebih sehat.  

​Pariwisata dan PAD: Gampong mengalokasikan Rp100.000.000 sebagai penyertaan modal untuk Badan Usaha Milik Gampong (BUMG) di bidang pariwisata. Investasi ini ditujukan untuk mengoptimalkan potensi lokal guna meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PAD).  

​Memahami Alur Pengelolaan APBG: Dari Meja Rapat ke Realisasi

​Proses perencanaan ini tidak berhenti pada musyawarah saja. Berdasarkan dokumen teknis gampong, terdapat tahapan sistematis yang harus dilalui agar anggaran dapat digunakan secara sah dan bertanggung jawab:

​1. Tahap Legalisasi dan Verifikasi

​Setelah musyawarah, tim penyusun akan melakukan Penyempurnaan Draft APBG berdasarkan masukan peserta. Dokumen ini kemudian masuk ke tahap Verifikasi dan Evaluasi oleh pendamping desa atau pihak kecamatan untuk memastikan kesesuaian dengan aturan yang berlaku.  

​2. Persetujuan dan Penetapan Qanun

​Rancangan yang telah diverifikasi harus mendapatkan Persetujuan Tuha Peut (BPG) sebagai bentuk kesepakatan kolektif. Langkah final secara administratif di tingkat desa adalah Penetapan Qanun/Peraturan Gampong oleh Keuchik. Dokumen tersebut kemudian dikirim ke tingkat Kecamatan/Kota untuk evaluasi administratif dan registrasi. 

​3. Pelaksanaan dan Pengawasan Ketat

​Setelah APBG diundangkan, pemerintah gampong baru dapat menjalankan program pembangunan, pemberdayaan, dan operasional. Namun, pelaksanaannya tetap berada di bawah radar pengawasan:  

​Monitoring dan Evaluasi: Dilakukan secara berkelanjutan oleh Tuha Peut, masyarakat, dan pendamping desa.  

​Pelaporan Transparan: Seluruh penggunaan anggaran wajib dicatat dalam laporan realisasi semesteran hingga laporan pertanggungjawaban akhir tahun.  

​Pendampingan Terpadu

​Keberhasilan perencanaan di Cot Bau tidak lepas dari peran Pendamping Desa dari tingkat PLD, PD dan TAPM dan pihak Kecamatan. Mereka mengawal proses sejak penyusunan draft, tahap pelaksanaan setelah dana dicairkan, hingga proses pelaporan secara berkala.  

​Dengan struktur anggaran yang kuat dan proses birokrasi yang tertib, Gampong Cot Bau optimistis tahun 2026 akan menjadi tahun penguatan ekonomi melalui pariwisata sekaligus perbaikan kualitas hidup melalui intervensi kesehatan yang masif.


Jumat, 08 Mei 2026

Transformasi Digital BUM Desa: Langkah Strategis TAPM Kota Sabang dalam Memperkuat Ekonomi Gampong ​


SABANG – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi, Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) dituntut untuk tidak sekadar menjadi penonton di pasar lokal. Menjawab tantangan tersebut, Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) Kota Sabang mengambil langkah proaktif dengan mengikuti Pelatihan Online Angkatan VI bertajuk "Pemasaran Produk BUM Desa secara Digital" yang diselenggarakan oleh Balai Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa, Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (BPPMDDTT) Bengkulu pada tgl 5-6 Mei 2026.


​Keikutsertaan Irfansyah, SH, M.Si selaku TAPM Kota Sabang dalam pelatihan ini menjadi sinyal kuat komitmen penguatan kapasitas SDM pendamping desa dalam mengawal digitalisasi ekonomi di ujung barat Indonesia.


​Membangun Identitas: Bukan Sekadar Jual Beli


​Salah satu kajian utama dalam pelatihan ini adalah mengenai Branding and Positioning. Di sektor perdesaan, seringkali produk unggulan gampong kalah bersaing karena kurangnya identitas visual dan narasi produk. Melalui kajian ini, ditekankan bahwa produk BUM Desa harus memiliki "jiwa" dan posisi yang unik di mata konsumen.


​"Branding bukan hanya soal logo, tapi soal bagaimana kita menanamkan kepercayaan kepada konsumen bahwa produk dari desa memiliki kualitas yang setara, bahkan lebih otentik dibandingkan produk pabrikan," ungkap materi yang disampaikan oleh Nur Fitriana dalam sesi pelatihan tersebut.


​Visualisasi Produk: Estetika di Ujung Jari


​Era digital adalah era visual. Pelatihan ini juga membedah secara teknis mengenai produksi konten kreatif. Peserta dibekali teknik pengambilan foto dan video produk hanya dengan menggunakan perangkat smartphone, namun dengan hasil yang profesional. Penguasaan teknik pencahayaan (lighting), komposisi, hingga proses editing menggunakan aplikasi terkini menjadi kurikulum wajib.


​Hal ini menjadi krusial bagi BUM Desa di Sabang agar mampu mempromosikan potensi lokal—baik itu produk olahan pangan maupun kerajinan—melalui platform visual seperti Instagram Reels dan TikTok yang kini menjadi kanal pemasaran paling efektif di Indonesia.


​Marketplace: Menembus Batas Geografis


​Selain konten, strategi penetrasi pasar melalui Marketplace menjadi bahasan mendalam. Digitalisasi pemasaran memungkinkan produk gampong di Sabang menjangkau pembeli di Jakarta, Surabaya, bahkan hingga ke luar negeri tanpa terhambat jarak fisik. Materi yang disampaikan oleh Larissa menekankan pentingnya manajemen toko daring yang responsif dan terpercaya untuk menjaga keberlangsungan usaha.


​Kajian Strategis: Dampak Bagi Ekonomi Gampong


​Partisipasi TAPM dalam pelatihan ini bukan sekadar pemenuhan tugas administratif, melainkan bagian dari desain besar pemberdayaan ekonomi desa. Ada beberapa dampak strategis yang diharapkan:


​Efisiensi Biaya Pemasaran: Digitalisasi memangkas rantai distribusi dan biaya promosi fisik yang mahal.


​Peningkatan PADes: Dengan pasar yang lebih luas, omzet BUM Desa diharapkan meningkat, yang secara otomatis akan berkontribusi pada Pendapatan Asli Desa (PADes).


​Kemandirian Ekonomi: Memperkuat posisi UMKM di bawah naungan BUM Desa agar tidak bergantung pada tengkulak.


​Menuju Sabang Mandiri Digital


​Pasca pelatihan ini, TAPM Kota Sabang berencana melakukan asistensi langsung melalui kegiatan IST (In Service Training) dan OJT (On the Job Training) kepada para Pendamping Desa (PD) dan Pendamping Lokal Desa (PLD). Langkah ini dilakukan agar transfer pengetahuan mengenai digital marketing dapat langsung menyentuh para pengelola BUM Desa di tiap gampong di bawah koordinasi Kecamatan Sukakarya dan sekitarnya.


​Dengan sinergi antara regulasi (seperti Permendes No. 16 Tahun 2025) dan kecakapan digital, BUM Desa di Kota Sabang optimistis mampu bertransformasi menjadi motor penggerak ekonomi yang modern, mandiri, dan berdaya saing global.


Oleh: Tim Media TPP/ Warta TPP Sabang

Copyright © 2026 - Pemberdayaan Masyarakat Desa Kota Sabang

SABANG – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi, Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) dituntut untuk tidak sekadar menjadi penonton di pasar lokal. Menjawab tantangan tersebut, Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) Kota Sabang mengambil langkah proaktif dengan mengikuti Pelatihan Online Angkatan VI bertajuk "Pemasaran Produk BUM Desa secara Digital" yang diselenggarakan oleh Balai Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa, Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (BPPMDDTT) Bengkulu pada tgl 5-6 Mei 2026.


​Keikutsertaan Irfansyah, SH, M.Si selaku TAPM Kota Sabang dalam pelatihan ini menjadi sinyal kuat komitmen penguatan kapasitas SDM pendamping desa dalam mengawal digitalisasi ekonomi di ujung barat Indonesia.


​Membangun Identitas: Bukan Sekadar Jual Beli


​Salah satu kajian utama dalam pelatihan ini adalah mengenai Branding and Positioning. Di sektor perdesaan, seringkali produk unggulan gampong kalah bersaing karena kurangnya identitas visual dan narasi produk. Melalui kajian ini, ditekankan bahwa produk BUM Desa harus memiliki "jiwa" dan posisi yang unik di mata konsumen.


​"Branding bukan hanya soal logo, tapi soal bagaimana kita menanamkan kepercayaan kepada konsumen bahwa produk dari desa memiliki kualitas yang setara, bahkan lebih otentik dibandingkan produk pabrikan," ungkap materi yang disampaikan oleh Nur Fitriana dalam sesi pelatihan tersebut.


​Visualisasi Produk: Estetika di Ujung Jari


​Era digital adalah era visual. Pelatihan ini juga membedah secara teknis mengenai produksi konten kreatif. Peserta dibekali teknik pengambilan foto dan video produk hanya dengan menggunakan perangkat smartphone, namun dengan hasil yang profesional. Penguasaan teknik pencahayaan (lighting), komposisi, hingga proses editing menggunakan aplikasi terkini menjadi kurikulum wajib.


​Hal ini menjadi krusial bagi BUM Desa di Sabang agar mampu mempromosikan potensi lokal—baik itu produk olahan pangan maupun kerajinan—melalui platform visual seperti Instagram Reels dan TikTok yang kini menjadi kanal pemasaran paling efektif di Indonesia.


​Marketplace: Menembus Batas Geografis


​Selain konten, strategi penetrasi pasar melalui Marketplace menjadi bahasan mendalam. Digitalisasi pemasaran memungkinkan produk gampong di Sabang menjangkau pembeli di Jakarta, Surabaya, bahkan hingga ke luar negeri tanpa terhambat jarak fisik. Materi yang disampaikan oleh Larissa menekankan pentingnya manajemen toko daring yang responsif dan terpercaya untuk menjaga keberlangsungan usaha.


​Kajian Strategis: Dampak Bagi Ekonomi Gampong


​Partisipasi TAPM dalam pelatihan ini bukan sekadar pemenuhan tugas administratif, melainkan bagian dari desain besar pemberdayaan ekonomi desa. Ada beberapa dampak strategis yang diharapkan:


​Efisiensi Biaya Pemasaran: Digitalisasi memangkas rantai distribusi dan biaya promosi fisik yang mahal.


​Peningkatan PADes: Dengan pasar yang lebih luas, omzet BUM Desa diharapkan meningkat, yang secara otomatis akan berkontribusi pada Pendapatan Asli Desa (PADes).


​Kemandirian Ekonomi: Memperkuat posisi UMKM di bawah naungan BUM Desa agar tidak bergantung pada tengkulak.


​Menuju Sabang Mandiri Digital


​Pasca pelatihan ini, TAPM Kota Sabang berencana melakukan asistensi langsung melalui kegiatan IST (In Service Training) dan OJT (On the Job Training) kepada para Pendamping Desa (PD) dan Pendamping Lokal Desa (PLD). Langkah ini dilakukan agar transfer pengetahuan mengenai digital marketing dapat langsung menyentuh para pengelola BUM Desa di tiap gampong di bawah koordinasi Kecamatan Sukakarya dan sekitarnya.


​Dengan sinergi antara regulasi (seperti Permendes No. 16 Tahun 2025) dan kecakapan digital, BUM Desa di Kota Sabang optimistis mampu bertransformasi menjadi motor penggerak ekonomi yang modern, mandiri, dan berdaya saing global.


Oleh: Tim Media TPP/ Warta TPP Sabang

Copyright © 2026 - Pemberdayaan Masyarakat Desa Kota Sabang

Rabu, 15 Oktober 2025

Penyaluran BLT DD Secara Simbolis oleh Camat Sukajaya di Gampong Cot Abeuk kota Sabang


Camat Sukajaya, Syachrial, menyerahkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana Desa untuk bulan Agustus 2025 secara simbolis kepada masyarakat Gampong Cot Abeuk, Kota Sabang. Penyerahan berlangsung di Kantor Keuchik setempat dan turut disaksikan oleh Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) Bapak Irfansyah, aparatur desa, serta warga penerima manfaat.

Program BLT Dana Desa ini telah berjalan sejak tahun 2020 dan terus berlanjut hingga kini sebagai bentuk dukungan kepada masyarakat dengan ekonomi rendah. Untuk tahun 2025, Gampong Cot Abeuk tercatat memiliki 27 Keluarga Penerima Manfaat (KPM), masing-masing menerima bantuan sebesar Rp300.000 per bulan.

Keuchik Gampong Cot Abeuk, Amrin Sianturi kepada RRI menerangkan, bantuan ini sangat membantu masyarakat dalam menghadapi tingginya harga kebutuhan pokok, terutama beras. Ia berharap penyaluran BLT terus dilanjutkan demi menjaga kestabilan ekonomi masyarakat lapisan bawah.

“Dengan adanya BLT ini, setidaknya warga kami yang masuk kategori miskin ekstrem bisa sedikit terbantu. Kami berterima kasih kepada pemerintah yang terus hadir di tengah-tengah masyarakat,” ujar Amrin Sianturi, Kamis (7/8/2025). 

Sementara itu Camat Sukajaya, Syachrial, ikut angkat bicara. Ia menyampaikan penyaluran BLT ini merupakan komitmen pemerintah untuk melindungi masyarakat terdampak. Ujarnya, di tengah melonjaknya harga beras dan kebutuhan pokok lainnya, bantuan ini sangat membantu mengurangi beban para penerima.

“Kami berharap BLT ini dapat membantu mengurangi beban warga, serta memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat. Terlebih bagi mereka yang berada dalam kategori rentan atau miskin ekstrem, ini sangat membantu,” ungkap Syachrial. 

  TPP Kota Sabang Siap Terapkan Aplikasi DRP Terbaru SABANG –Rabu (3/6/2026), Tenaga Pendamping Profesional (TPP) Kota Sabang melakukan kons...